Pentingnya Kesehatan Mental Anak, Belajar dari Kasus Bocah Bunuh Diri
Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap insiden tragis yang menimpa seorang siswa sekolah dasar berinisial Y,10, tahun, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Presiden Prabowo Subianto disebut telah meminta laporan lengkap dari jajaran terkait serta memastikan penanganan psikologis bagi keluarga dan lingkungan sekitar korban.
Sebelum ditemukan meninggal dunia, pelajar kelas IV itu dilaporkan sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Peristiwa tersebut memantik keprihatinan masyarakat dan mendorong pemerintah memperkuat edukasi mengenai kesehatan mental pada anak.
Kesehatan mental anak merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka, mencakup kemampuan mengatur emosi, bersosialisasi, memahami diri sendiri, serta menghadapi tantangan sesuai tahap perkembangan. Ketika kondisi mental anak stabil, mereka dapat berkembang secara optimal baik dalam lingkungan akademik, sosial, maupun emosional.
Namun kesehatan mental anak sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor internal seperti kondisi genetik, kesehatan otak, dan kemampuan regulasi emosi, serta faktor eksternal seperti lingkungan keluarga, tekanan sekolah, kondisi ekonomi, hingga interaksi sosial di sekitar mereka.
Para pakar menjelaskan bahwa kesehatan mental anak merupakan kondisi psikologis dan emosional yang memungkinkan anak mampu bersosialisasi, mengelola perasaan, dan menghadapi tantangan perkembangan secara optimal. Anak dengan kesehatan mental baik cenderung berkembang lebih baik secara akademik, sosial, maupun emosional.
Ahli psikologi klinis anak, yang dimintai pendapat terpisah, menuturkan bahwa kesehatan mental dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. “Faktor internal bisa berupa genetik, kondisi otak, kesehatan fisik, serta kemampuan regulasi emosi. Sementara faktor eksternal meliputi lingkungan sosial, pola asuh, tekanan sekolah, maupun kondisi ekonomi keluarga,” katanya.
Melansir laman ayosehat.kemkes.go.id berbagai bentuk gangguan mental seperti kecemasan, depresi, psikosis, dan bipolar juga dapat muncul pada anak dan remaja. Gangguan mental ini seringkali gejalanya tidak disadari oleh orang tua atau guru. Untuk tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai adalah perubahan perilaku anak, seperti, menarik diri dari pergaulan, gangguan tidur perubahan emosi drastis. Kemudian menurunnya minat pada kegiatan sehari-hari, keluhan fisik berulang seperti sakit kepala atau nyeri perut tanpa sebab jelas hingga perilaku agresif atau sebaliknya, terlalu pasif
Adapun gangguan mental yang umum terjadi pada anak dan usia muda, antara lain sebagai adalah gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder). Tandanya adalah rasa gelisah berlebihan, sulit fokus, gangguan tidur, hingga ketegangan fisik berkepanjangan. Kemudian depresi yang terlihat dari suasana hati murung, kehilangan minat, kelelahan, perubahan pola makan, hingga pikiran menyakiti diri sendiri. Selanjutnya psikosis yaitu adanya halusinasi, perilaku kacau, kecurigaan ekstrem, dan disorganisasi komunikasi. Salah satu bentuknya adalah skizofrenia. Terakhir adalah gangguan bipolar yaitu memunculkan perubahan suasana hati ekstrem antara fase mania dan depresi.
Penyebab munculnya berbagai gangguan mental ini sangat beragam dan saling terkait. Riwayat keluarga, tekanan ekonomi, pengalaman kekerasan fisik atau emosional, hingga diskriminasi sosial berperan dalam memperburuk kondisi mental seorang anak. Dalam banyak kasus, sulit menunjuk satu faktor sebagai penyebab utama, karena masalah mental adalah hasil interaksi kompleks dari berbagai kondisi yang terjadi secara bersamaan.
Tragedi di NTT memberikan pelajaran berharga bahwa kesehatan mental anak bukan isu sepele. Anak-anak mungkin tampak kuat, namun mereka memiliki dunia emosi yang belum sepenuhnya matang. Mereka membutuhkan lingkungan yang peka, responsif, dan hadir. Setiap anak berhak tumbuh dalam kondisi mental yang sehat, dan ini hanya dapat terjadi jika keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah bersama-sama memberikan perhatian lebih serius. Untuk itu pemerintah mengimbau masyarakat untuk memperkuat pencegahan antara lain menjaga kesehatan fisik, istirahat cukup, pola pikir positif, kemampuan menyelesaikan masalah kemudian dukungan sosial yang kuat dan konsultasi profesional bila diperlukan
Sedangkan untuk penanganan, beberapa metode yang diterapkan tenaga kesehatan meliputi pengobatan medis sesuai resep psikiater dan psikoterapi untuk membantu mengelola emosi dan pola pikir. Selain itu dapat memalui terapi stimulasi otak pada kondisi tertentu, kelompok dukungan (support group), perawatan rumah sakit untuk kasus berat, hingga pendampingan keluarga pada perawatan mandiri.
Pakar menilai kasus tragis bocah SD di Ngada harus menjadi pembelajaran nasional bahwa kesehatan mental anak tidak boleh diabaikan. Pemerintah menegaskan komitmen untuk memperkuat edukasi kesehatan jiwa di sekolah dan keluarga. Menteri terkait juga dijadwalkan mengunjungi NTT untuk memastikan pendampingan maksimal bagi keluarga korban.
Penulis: Nurul Huda