Program Pengelolaan Sampah Pondok Pesantren Nurul Islam Jember
Oleh: Nurul Huda
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Pesantren Nurul Islam Jember dan CCEP Indonesia mengadakan kegiatan Mainstreaming dan Pelatihan Pengelolaan Sampah. Acara adalah bagian dari gerakan panjang membangun kesadaran ekologis pesantren dan langkah nyata menjawab krisis lingkungan.
Direktur P3M, KH. Sarmidi Husna, MA, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kerja sama ini bukan proyek jangka pendek, melainkan bagian dari gerakan panjang membangun kesadaran ekologis pesantren. Menurutnya, P3M tidak ingin menjadikan pesantren sebagai objek program, tetapi subjek perubahan. Semua hasil ekonomi dari pengolahan sampah nantinya menjadi milik pesantren, sementara sarana yang diberikan hanya sebagai stimulan awal.
Kiai Sarmidi menyebut pencemaran lingkungan sebagai perbuatan haram bila menimbulkan mudarat bagi orang lain. Dalam perspektif Islam, perusak lingkungan bahkan dapat dikategorikan sebagai pelaku kriminal, dengan kewajiban mengganti kerugian yang ditimbulkannya.Β Ia mengutip kisah Ummu Mahjan, seorang perempuan pembersih masjid pada masa Nabi Muhammad SAW, yang justru mendapat kemuliaan karena jasanya menjaga kebersihan rumah Allah. Kisah ini menjadi pesan kuat bahwa profesi pengelola sampah bukan pekerjaan hina, melainkan amal mulia dalam Islam.
Menurut Kiai Sarmidi, P3M mendampingi lima pesantren terpilih, dua di antaranya berada di Jawa Timur yaitu Nurul Islam Jember dan Mambaβul Maβarif Denanyar Jombang. Pemilihan ini berdasarkan pada komitmen, kesiapan kelembagaan, serta potensi dampak luas melalui jaringan alumni. Sementara itu Ibu Lucia KarinaΒ menyebut pesantren adalah sumber cahaya. Di pesantren ada adab, kebijaksanaan, dan energi perubahan yang tidak saya temukan di ruang-ruang forum internasional.Β Β Perempuan penerima penghargaan UN Global Compact SDG Pioneer atas kiprahnya dalam pengembangan ekonomi sirkular dan pemberdayaan berbasis lingkungan menekankan bahwa Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hablun minallah) dan sesama manusia (hablun minannas). Namun islam juga menekankan hubungan manusia dengan alam (hablun minal alam). Karena itu, pengelolaan lingkungan bukan aktivitas sekuler, melainkan ibadah sosial.
Dari Sampah Menjadi Sumber Ekonomi
Dalam kesempatan yang sama, masalah lingkungan Kabupaten Jember sudah kekurangan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Menurut dr. Nurul dari Dinas Lingkungan Hidup setiap penduduk Jember menghasilkan sekitar 0,5 kilogram sampah per hari. βDengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta jiwa, maka total produksi sampah harian mencapai Β±1.300 ton. Ironisnya, kapasitas lima TPA yang ada hanya mampu menampung sekitar 300 ton per hari. Untuk sisanya berisiko dibuang ke sungai, sawah, atau lahan kosong,β ungkapnya.Β Dalam kondisi seperti itu, pesantren dengan ribuan santri memiliki peran strategis. Selain sebagai produsen sampah dalam jumlah besar, pesantren juga memiliki kekuatan sosial untuk mengubah perilaku dan budaya masyarakat sekitarnya. Itulah alasan mengapa Nuris dipilih menjadi model pengelolaan sampah berbasis pesantren.
Sementara Fitria Ariyani, pemateri dari P3M dalam paparannya memperkenalkan konsep bank sampah berbasis pesantren. Menurutnya setiap jenis sampah memiliki nilai ekonomi berbeda, sehingga pemilahan yang tepat sangat menentukan pendapatan. Untuk itu penting sekali melakukan pemilahan sampah sampah anorganik seperti botol PET, kardus, dan plastik tertentu. Selanjutnya bisa menjualnya ke mitra daur ulang seperti BSI.Β Fitri kemudian memberikan contoh pengolahan sampah yang ada di Lampung.Β Bank sampah komunitas berhasil menurunkan timbulan sampah TPA hingga 40 persen dan meningkatkan pendapatan desa mencapai 60 juta rupiah per bulan. Di Bali, sebuah bank sampah bahkan mencatat kenaikan pendapatan dari 3 juta menjadi lebih dari 400 juta rupiah per bulan.
Salah satu sesi paling diminati santri adalah pelatihan pembuatan eco-enzyme yang dibawakan oleh Bu Grossi, pegiat Eco-Enzyme Nusantara. Eco-enzyme dibuat dari fermentasi sampah organik dapur, gula merah, dan air dengan perbandingan 1:3:10. Setelah difermentasi selama tiga bulan, cairan ini memiliki banyak manfaat: pembersih lantai, sanitizer alami, pupuk cair, hingga perawatan kulit.
Selain eco-enzyme, santri juga diperkenalkan pada pembuatan biopori dan kompos. Lubang biopori sedalam 60 cm digunakan untuk mengolah sampah organik sekaligus mengurangi genangan air. Sampah organik yang mencapai sekitar 120 kg per hari di lingkungan pesantren dapat diolah menjadi kompos dalam waktu Β±40 hari dengan bantuan starter seperti EM4 atau eco-enzyme.Β Mereka juga mendapatkan pengenalan budidaya maggot sebagai solusi pengolahan sampah organik sekaligus penghasil pakan ternak bernilai ekonomis.
Materi yang diberikan tidak hanya berhenti pada konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), tetapi diperluas menjadi 5R dengan menambahkan Refuse (menolak barang tidak perlu) dan Rot (mengolah organik menjadi kompos). Santri tidak hanya diajak membuang sampah pada tempatnya, tetapi lebih jauh lagi: berpikir sebelum membeli dan menggunakan barang.
Dalam sesi pelatihan, santri diminta membawa tumbler, mengurangi pemakaian kemasan sekali pakai, dan menolak plastik tidak perlu. Mereka juga diajak mengenali jenis-jenis sampah: organik, anorganik, B3, dan residu. Bahkan dilakukan praktik langsung pemilahan sampah di mana santri harus mengelompokkan botol plastik, kertas, kaleng, dan kemasan multilayer sesuai kategori yang benar. Kemudian peserta juga mendapatkan peserta pelatihan budidaya maggot dan budidaya lele untuk mengatasi sampah di pesantren.
Green Jobs dan Sertifikasi Profesi
Program ini tidak hanya berhenti pada edukasi moral, tetapi juga membuka peluang masa depan santri. Pesantren berencana bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) untuk memberikan sertifikat kompetensi pengelolaan sampah kepada santri terpilih. Sertifikat ini dapat digunakan sebagai bekal memasuki dunia kerja di sektor lingkungan atau green jobs.Β Santri yang berprestasi diharapkan bisa menjadi pelatih bagi angkatan berikutnya, sehingga lahir kader-kader pengelola lingkungan berbasis pesantren yang tersebar di berbagai daerah melalui jaringan alumni Nuris.
Acara Mainstreaming dan Pelatihan Pengelolaan Sampah pada 15β16 November 2025 sebagai langkah nyata menjawab krisis lingkungan. Bekerja sama dengan P3M dan CCEP Indonesia, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi transformasi budaya yaitu membentuk kesadaran ekologis santri berbasis nilai keislaman, sains lingkungan, dan ekonomi sirkular. Pesantren ingin membuktikan bahwa dari ruang tradisi, lahir jawaban atas persoalan modern bernama sampah. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Nuris Jember, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), serta CCEP Indonesia. Acara dihadiri oleh Syaikhul Maβhad KH. Muhyidin Abdushomad, Pengasuh Pesantren KH. Robit Qosidi dan para ustaz-ustazah pesantren, santri, serta narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember dan para pegiat lingkungan nasional.
Dalam dunia yang semakin penuh krisis ekologis, langkah yang diambil Nurul Islam Jember menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga laboratorium sosial untuk solusi lingkungan. Dari ruang sederhana di Jember, pesan kuat dikirimkan ke dunia: perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil, dari sampah yang tak lagi dibuang, melainkan dikelola dengan iman dan ilmu.
Advertisement