Serah Ijazah, Wisuda Asyik ISI Jogjakarta
Tentu saya tak akan menulis isu ijazah palsu yang seperti tak akan ada habisnya.Β Apalagi gorengannya. Apalagi menyangkut almamater saya sendiri. Tapi ini soal proses penyerahan ijazah. Yang asli tentunya.
Kali ini tentang upacara penyerahan ijazah untuk sarjana yang baru lulus. Di perguruan tinggi. Wisuda namanya. Akhir pekan kemarin saya menghadiri Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.
Kebetulan salah satu dari 300 lebih sarjana yang hari itu diwisuda anak saya sendiri. Anak ketiga dari empat bersaudara. Namanya Nizar Mohammad. Sampai sekarang, ia baru satu-satunya lulusan SMA Alhikmah Surabaya yang kuliah di ISI.
Lulusan SMA Alhikmah kok jadi seniman? Demikian pertanyaan banyak orang tua teman seangkatannya. Saya tak pernah menanggapinya. Biarlah anak memilih passionnya sendiri. Dia berjuang mati-matian untuk bisa masuk kampus pencetus seniman ini.Β
Dia tidak salah memilih kampus. Ini bisa diukur dengan cara perguruan tinggi negeri ini mengorganisasi wisuda sarjananya. Tertata, nyaman, menghibur dan tidak membosankan. Ini bukan sekadar ritual wisuda. Tapi bisa disebut sebagai pertunjukan. Showbiz.
Para pimpinan institute duduk menghadap para wisudawan dan orang tua. Di samping kiri, ada kelompok karawitan. Sebelah kanan kelompok musik orkestra. Sepanjang prosesi wisuda, dua kelompok musik itu bergantian memainkan nada.
Semua membuat proses wisuda itu tak menjemukan. Selama dua setengah jam terasa menyaksikan pertunjukan dengan penuh riang. Riang karena para mahasiswa itu telah mengakhiri masa belajarnya. Sedangkan para orang tua bahagia menyaksikan anak-anaknya diwisuda.
Apalagi gedung tempat wisuda memang tempat pertunjukan. Laboratorium Seni namanya. Panggungnya besar, kursinya bertingkat (tribune), akustiknya istimewa. Menjadikan duduk dua jam lebih di dalamnya tak terasa kegerahan. Nyaman.
Saya sudah 8 kali menghadiri wisuda. Saya sendiri tiga kali wisuda di UGM, Unair, dan Universitas Brawijaya. Selebihnya menghadiri wisuda anak di UGM, UI, Universitas Glasgow, dan ISI Jogja. Menurut saya, dari semua itu, prosesi wisuda ISI Jogja yang paling mengasyikkan.
Prosesi diawali dengan kehadiran pimpinan dan anggota Senat ISI Jogja. Para dosen dengan baju kebesaran dan toga menuju panggung utama dengan diiringi musik Orkestrta. Begitu sesampai di panggung, semua hadirin berdiri untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Hymne dan mars ISI.
Setelah Ketua Senat yang juga rektor ISI Jogja Dr. Irwandi S.Sn, M.Sn. secara resmi membuka acara, langsung disambung tari Saraswati oleh 7 gadis cantik dan gemulai. Ini tari yang menggmbarkan Dewi Ilmu Pengetahuan.
Prosesi wisuda untuk para sarjana yang lulus dengan predikat cumlaude langsung oleh rektor. Sedangkan wisudawan lain oleh dekan masing-masing fakultas. Selama penyerahan ijazah dan pemindahan tali toga, gamelan terus mengiringinya.
Tidak sampai dua jam prosesi serah ijazah itu selesai. Rangkaian wisuda para sarjana seni itu ditutup dengan lagu Padamu Negeri, janji wisudawan, dan sambutan rektor. βPara wisudawan adalah duta seni dan budaya ISi Jogja. Bangun citra positif sebagai alumni,β kata Rektor.Β
Bagi saya, wisuda di ISI Jogja ini bukan sekadar seremoni akademik. Tapi seperti pementasan agung di sebuah panggung kehidupan. Para wisudawan berjalan dengan toga hitamnya. Ibarat para aktor utama yang menuntaskan satu babak penting dari lakon panjang perjalanan ilmu dan seni.
Dari kejauhan, denting gamelan mengalun: saron, gender, kendang, dan gong berpadu dalam harmoni yang mengakar dari bumi Nusantara. Setiap nada gamelan bagai denyut jantung ibu pertiwi, menandai kebijaksanaan tradisi yang tak lekang oleh zaman.
Lalu orkestra modern menyusul, gesekan biola, tiupan klarinet, dan dentuman timpani menyapa ruang. Seakan-akan masa depan menyahut tradisi, memberi isyarat bahwa dunia baru terbuka lebar menanti langkah para seniman muda.
Gamelan dan orkestra itu tak hanya musik pengiring. Mereka adalah simbol pertemuan dua samudra: samudra budaya lokal yang dalam dan samudra global yang luas. Di titik pertemuan itulah para wisudawan berdiriβsebagai jembatan, sebagai penghubung antara akar dan cakrawala.
Wisuda ISI Jogja menjadi perayaan di mana ilmu dan seni berpadu. Juga tempat panggung kehidupan menegaskan bahwa setiap karya, setiap nada, setiap langkah, adalah doa yang mengalun bersama harapan.
Seperti alunan gamelan yang berputar dalam siklus, dan orkestra yang melaju menuju klimaks, begitulah hidup para wisudawan: bergerak dari tradisi, meniti inovasi, menuju harmoni baru yang mereka cipta sendiri.
Serah ijazah ternyata bisa juga menjadi pementasan. Menjadi pertunjukan. Kegembiraan yang dipertontonkan. Itu muncul dari para seniman.
Advertisement