Soal NU dan Muhammadiyah, Ini Kisah Mengharukan!
Sebuah kisah KH Abdurrahman Wahid alias GusDur, almaghfurlah, berdialog dengan Sunanto, Ketua Umum (Baru) PP Pemuda Muhammadiyah menggantikan Dahnial Simanjuntak.
Suatu ketika, Nanto bertanya pada Gus Dur. โGus, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila, bukan negara Islam?โ tanya Nanto.
โMenurut siapa dulu, NU atau Muhammadiyah?โ jawab Gus Dur.
โNU, deh Gus,โ kata Nanto.
โHukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan,โ jawab Gus Dur.
โHukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan,โ jawab Gus Dur.
โKalau menurut Muhammadiyah?โ tanya Nanto lagi.
โSama,โ jawab Gus Dur singkat.
Nanto melanjutkan pertanyaan berikutnya, โKalau melawan Pancasila, boleh tidak Gus? Kan bukan Al-Quran?โ
โMenurut NU atau Muhammadiyah?โ jawab Gus Dur.
โMuhammadiyah, coba,โ kata Nanto.
โTidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji,โ jawab Gus Dur.
โKalau menurut NU?โ tanya Nanto.
โSama,โ jawab Gus Dur.
Sampai di sini, Nanto mulai senewen. Dia merasa dikerjain Gus Dur. Jawaban menurut NU dan Muhammadiyah kok selalu sama.
Anda bagaimana sih, Gus. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kami disuruh milih menurut NU atau Muhammadiyah?" tanya Nanto.
โYa .. kita harus dudukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, mas. Nggak boleh serampangan,โ jawab Gus Dur.
โSerampangan bagaimana?โ sahut Nanto.
โKalau Muhammadiyah itu 'kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah,โ jawab Gus Dur.
โLha, kalau NU?โ tanya Nanto.
โSama,โ jawab Gus Dur.
Kisah ini ditulis Gus Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum PP GP Ansor. (adi)
Advertisement